A PET IS NOT MEASURED BY IT'S PRICE

03 Januari 2017           By : MINGCU           Tags:


Kami sekeluarga memelihara seekor kutilang. Dia datang ke rumah kami dalam usianya yang mungkin baru beberapa bulan dan baru belajar terbang. Dia awalnya liar, jadi kami mendapatkannya secara gratis dan cuma cuma. Dia tidak mahir terbang awalnya, dan bulu bulunya sering kali rontok. Dia menjadi semakin jinak dan semakin hari semakin kami sayangi. Adik sayalah yang sebenarnya menginginkan dia dan merawatnya. Dia menjadi burung yang kami biarkan berkeliaran di lantai rumah. Kadang kala, kami menyangka ada tikus yang lewat, karena tubuhnya yang kecil dan berwarna hitam. Untung saja tidak terinjak atau dipukul sapu terlebih dahulu. kandangnya hanya untuk malam hari agar aman dari tikus atau kucing liar.

Satu ketika, pagi pagi kami bangun, dia telah menghilang, tidak ada di lantai rumah berkeliaran atau pun di dalam kandangnya. Kami mencarinya, tapi tidak menemukan. Adik saya sedang bersekolah. Ibuku meributkan dimana kutilangnya, apakah dimakan tikus atau jangan-jangan masuk ke dalam closet toilet dan tenggelam, lalu adik tak berani mengatakan yang sesungguhnya karena takut dimarahi. Tidak ada cara lain selain menunggu dia pulang sekolah untuk mendapatkan kejelasan mengenai kutilang itu. 

Setelah dia pulang sekolah, ibu menanyakan kutilang, tapi adik tetap tidak mau mengatakannya. Lalu kami tinggalkan dia. Dia mengeluarkan kutilang itu dari lemari buku. Jadi, selama setengah hari dia berada di dalam sana, mungkin sedang tertidur. Ternyata kakinya patah. Saya sedang mengecat air mancur di dalam aviary saat itu, karena tukang yang kami sewa ternyata tidak begitu pandai dalam seni rupa (saya ingin yang artistik, terpaksa mengerjakan sendiri. Terpaksa juga meninggalkan sementara packing-packing tarantula yang menumpuk. Setelah mengecat selesai baru dikerjakan lagi. Ya, saya bekerja di rumah. Hobi saya adalah pekerjaan yang saya cintai.). Ibuku lewat, lalu mengatakan bahwa kakinya patah. Sedih rasanya, burung sekecil itu patah. Bagaimana bisa? Kemarin malam masih baik baik saja.

Saya meninggalkan pekerjaan saya, lalu menghampiri adik dan kutilang, berkata "sini, cici lihat". Pertama ia tidak mau memberi lihat, lalu saya berkata "tidak apa. Cici tidak akan marahin. Kalau kamu mau, cici antar ke dokter. Tapi kamu yang bayar." (Saya ingin mengajarkan dia tentang tanggung jawab"). Dia tidak langsung mengiyakan. Seakan berpikir. Aku melihatnya, benar kakinya patah, sudah diperban tapi sebaiknya diperiksakan ke dokter. Lalu aku meninggalkannya, membiarkan dia berpikir, lalu kembali pada pekerjaan yang belum selesai. 

Tidak lama, saya kembali menghampiri adik. "Gimana? Mau ke dokter ga?". Dia malah baca koran sepak bola, dan lanjut nonton sepak bola. Walau perempuan, dia sangat suka sepak bola. Saya emosi, "lebih penting sepak bola daripada kutilang? Kalau sampai mati, menyesal seumur hidup. Tidak akan ada lagi kutilang seperti dia walau kamu beli 1000 ekor pun". Dia membalas "masih buka dokternya, ci?". "Masih", timpalku. Jadilah kami ke dokter. 

Di sana, kami bertemu banyak orang yang mengantarkan hewan peliharaan masing-masing. Ada anjing samoyed, kucing ras, kucing liar, anjing pom, dll. Kami mengobrol karena waktu menunggunya ternyata sangat lama. Salah satu dari mereka bertanya, "bawa burung? Kenapa dia?". Saya jawab, "kakinya patah.". "Koq bisa?" Tanya mereka. "Tidak tahu, hanya adik yang tahu." (Saya tidak mendesak jawabannya, saya menunggu waktu yang tepat menanyakannya lagi). Seorang dari mereka mentertawakan ketika tahu burungnya adalah kutilang, yang kalau dibeli mungkin tidak akan semahal biaya dokternya (walau menurut saya biaya ke dokter hewan murah). Saya menjawab "peliharaan bukan dinilai dari harganya ya.". Dia bertanya lagi "oh, ok, dari bayi ya?". "Yah, kurang lebih begitulah".

Di dalam ruang dokter, kami mendapat pengakuan, ternyata dia salah gunting. Harusnya gunting kuku kutilang malah gunting kakinya. Terjadi di malam hari, tidak ada yang tahu. Inilah mengapa saya pribadi tidak melakukan gunting kuku burung lagi semenjak beo saya yang semula jinak sekali membenci saya sampai mati karena salah gunting (kejadian sudah bertahun tahun lalu). Sekarang burung burung di rumah tidak ada yang saya gunting kuku. mana tahu, si adik malah mengikuti kesalahan yang sama, malah lebih fatal akibatnya.

Dalam pet apapun, pet tidak dinilai dari harganya, jangan lupakan itu. Baik reptil, burung, kucing, anjing, tarantula, dll.

Tolong cintai peliharaan yang telah diadopsi. Jangan terlantarkan karena bosan atau karena harga murah, atau karena harga turun, atau karena susah laku. Baik bagi para reseller atau pun keeper. Berilah yang terbaik bagi tarantulamu :).

Baik tarantula yang saya jual, ataupun yang saya pelihara, saya tidak ingin melupakan prinsip itu. Walaupun hobi saya telah berubah menjadi suatu bisnis. Tapi, saya tetap menyayangi mereka semua, terlepas dari yang orang lain katakan tentang saya, mereka tidak mengetahui apa pun tentang saya. Kalau tidak, ketika ada yang menanyakan untuk membeli mereka sebagai bahan untuk obat, mungkin saya sudah ijinkan. Hati saya tersayat kalau mengetahui hal itu, saya tidak dapat mengijinkannya, betapa pun menggiurkannya uang yang ditawarkan. 

Atau ketika tarantula baru datang dari perjalanan impor yang panjang atau baru menetas, saya berkomitmen selalu merawat mereka terlebih dahulu, resikonya saya dan pegawai kecapaian mengurus. Kualitas kesehatan mereka tergantung dari itu, walau pun tidak menutup kemungkinan sepenuhnya setelah dirawat di saya, saya kirim, hidup pas sampe, di pembeli mungkin saja masih bisa mati di perawatan. Namun apa yang saya lakukan setidaknya memperkecil hal itu. Mereka bukanlah barang yang baru dikirim bisa dikirim lagi berulang kali, mereka mahkluk hidup. Resikonya, tarantula yang lemah mati di saya dan saya mengalami kerugian, dan pengiriman ke pembeli jadi lebih lama, tapi tarantula yang diberi istirahat terbukti lebih prima. 

Dahulu, sempat saya berpikir tarantula dapat dikirim di 1instar, memang iya, hidup pas dikirim dan sampai pada 2nd instar pada kasus vagans. Tapi ketika mengirim lyrognathus 1instar malah tidak selamat, tidak ada kerugian materiil baik di pengirim dan penerima (karena bukan dalam konteks jual beli), namun sedih rasanya, bagaimana pun itu adalah nyawa. Saya tidak ingin hal itu terjadi lagi. Jikalau murni untuk bisnis dan uang semata, semuanya akan runtuh, karena apa yang saya geluti tidak akan bertahan lama tanpa cinta dan passion. Bisnis saya bermula dari kecintaan saya terhadap tarantula. Dan masih berdenyut di dalam itu dan semoga selalu dalam cinta, Amin. 


Artikel Terkait


Produk Terkait